Di tempat ini aku teringat sesuatu. Teringat saat dulu, saat dimana masih bersama Nefi.
“Hai…” sapa Nefi kepada ku.
“Hai Fi… tumben sudah datang?” tanyaku. Biasanya Nefi baru datang jika detik-detik bel sekolah atau ga jarang juga dia datang saat sudah bel berbunyi. “Aku pengen cepet-cepet ketemu kamu” jawabnya.
Sejenak akupun terpaku mendengarnya menjawab ingin cepat bertemu aku berarti Nefi kangen sama aku.
“hehehe… jemputan orangtuaku memang agak pagi datangnya jadi aku sudah sampai deh jam segini” lanjutnya.
Ternyata Nefi hanya bercanda berkata seperti itu. Yaa tidak ku pungkiri aku memang sedikit kecewa.
Aku berharap Nefi benar-benar kangen sama aku sehingga ia ingin cepat bertemu aku di sekolah.
Pertama kalinya kami sarapan di kantin bersama, ngobrol panjang lebar. Ya walaupun hanya 30 sampai 45 menit aku tetap seneng bisa ngobrol bersamanya.
Kami sudah kenal sejak pertama masuk SMU, kami tidak sekelas saat kelas X dan baru kelas XI kami menjadi teman sekelas.
Dan ternyata aku makin kagum sama Nefi. Dia anak yang baik, cerdas, perhatian dengan teman-temannya dan memang tidak aku pungkiri Nefita Aprilani memang anak yang manis.
“Nur… Bu Eny sudah masuk belum?” Tanya Nefi kepada Nuri salah satu sahabatnya dan juga teman sebangkunya.
“Telat lagi?” Tanya ku. Karena Aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengar Nuri.
“Telat bangun karena ga denger jam weker ku bunyi terus ketinggalan jemputannya ayah”. Aku sudah hapal dengan kalimat itu dan benar Nefi pun menjawab sama persis dengan yang aku pikirkan.
Dan Nefi pun langsung mempercepat langkah kakinya agar sampai di kelas sebelum Bu Eny masuk karena Bu Eny akan tidak mengizinkan dia masuk jika telat lagi.
Dari kejauhan pun aku terus melihat ke arah Nefi memastikan dia benar-benar masuk kelas dan tidak diusir oleh Bu Eny.
Bel istirahat berbunyi.
“ Nefi… ”
“Hai Di… mau ke kantin?”
“Iya…”
Aku hanya bisa memanggil namanya dan menjawab “iya”. Kenapa aku tidak mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama, sesalku.
Dari tempat yang berbeda akupun tetap memandangnya dari kejauhan dan melihatnya sedang bercanda dengan teman-temannya.
Ya Tuhan… aku sangat senang melihatnya tersenyum seperti itu.
Entah apa yang aku rasa, perasaan itu muncul saat ku melihatnya tersenyum dan saat dia ada di depanku.
30 menit pun berlalu dan bel berbunyi pertanda waktu istirahat sudah habis. Aku, Nefi dan yang lainnya bergegas meninggalkan kantin.
Sampai akhirnya jam pulang sekolah, seperti biasanya aku dan teman-teman yang tergabung dalam ekskul basket berkumpul untuk latihan rutin.
“Udah sana samperin!” ledek salah satu temanku.
“Daripada ngeliatin terus” tambahnya.
Aku hanya menggelang-geleng.
Satu hari lagi terlewati dan sekali lagi aku hanya memandangnya dari kejauhan.
Tahun ajaran berganti, Alhamdulillah aku naik kelas XI.
Ku nikmati liburan sekolah beberapa minggu, ku tinggalkan dulu aktivitas-aktivitas sekolah untuk sementara.
“Di… kapan kamu daftar ulang?” Tanya mama
“Iya ma. Besok aku ke sekolah”.
Esok harinya.
“Ma… aku ke sekolah dulu”
“Hati-hati Di… Jam berapa kamu pulang nanti? Jangan lupa nanti anter Farah!”
“Iya mama, aku pasti anterin Farah.”
Setiap sore aku memang selalu anterin Farah adikku Les Biola.
“Hai Efdi…”
Suara itu menghangatkanku. “Hai Fi…”
“Kamu daftar ulang juga?”
“Iya. Kemarin-kemarin aku lupa, ini juga diingetin mama”
“Sama siapa kamu Fi?”
“Sendiri aja.”
“Ga bareng Nuri, Echa, atau yang lainnya?”
“Nuri dan Echa sudah daftar ulang kemarin. Kemarin aku pergi sama bunda jadi baru bisa sekarang.”
Aku terkejut saat diberitahu kami sekelas. Maksudnya terkejut senang.
“Di… kita sekelas. Nanti aku bisa privat bahasa inggris nih sama kamu.”
“Iya kita sekelas. Ah Nefi biasa saja. Malah aku yang nantinya akan privat matematika sama kamu”.
Hari demi hari minggu demi minggu ku lalui di kelas XI ini dan aku pun makin sering ngobrol dengan Nefi. Dan lagi, aku pun semakin sering diledekin sama teman-temanku.
“Efdi… udah bilang aja terus terang” kata Irvan temanku. Seperti biasa jika dia melihat aku sedang mamandang Nefi dari kejauhan, Irvan pasti akan mengeluarkan kalimat itu.
Tiga bulan berlalu dan waktunya tiba.
Aku dan keluargaku harus pindah ke Palembang. Entahlah apa sebabnya, sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa kami harus pindah ke Palembang.
Akupun tak sempat berpamitan dengan Nefi. Itu satu-satunya hal yang membuatku menyesal sampai sekarang.
Sudah lima bulan aku di Palembang dan akupun memberanikan diri untuk pergi ke Jakarta. Salah satu tujuanku adalah bertemu dengan Nefi.
Sampainya di Jakarta akupun langsung ke sekolahku yang dulu. Aku bertemu dengan semuanya, guru-guruku juga teman-temanku. Lima bulan sudah tapi tidak ada perubahan masih sama seperti lima bulan yang lalu.
“Bro… apa kabar? Gimana Palembang? Pem-pek, jembatan Ampera apa kabarnya?” sapa Irvan.
“Akhirnya berkunjung juga ke Jakarta. Tim basket sepi Bro ga ada lw.”
“ Ah bisa aja lw Van, yang ninggalin tim kan Cuma gw doang masa jadi sepi”
“Hehehe basa-basi gw doang. Btw lw ke sini berkunjung doang atau ada yang dicari?” ledeknya
“Ah lw ga berubah ya ngeledekin gw mulu.”
“Abis cuma lw temen gw yang ga pernah marah kalo di ledekin hehe.”
“Nur…”
Tiba-tiba Nuri melintas. Dan akupun langsung menghampirinya.
“Efdi… apa kabar? Kapan sampai Jakarta?”
“Baik Nur, tadi pagi aku sampainya. Kamu dan teman-teman gimana kabarnya?”
“Ku rasa kami baik-baik saja.”
“Emm Nuri… Nefi mana kok ga keliatan?”
“Kamu ga tahu Di? Nefi sudah ga sekolah di sini lagi”.
“Kenapa?”
“Yaa kurang lebih sebulan kamu pergi diapun pergi meninggalkan sekolah ini. Nefi bilang ayahnya dipindah tugaskan ke Surabaya.”
Ku berkata dalam hati pupus sudah harapanku.
“Kamu tahu no telepon atau alamatnya di sana?”
“Sayangnya ga tuh Di. Aku pernah mencoba menelpon no hpnya yang lama tapi sepertinya tidak aktif lagi.”
Sejenak ku terdiam, kini benar-benar pupus semua harapanku. Tujuanku pergi ke Jakarta adalah untuk menemui Nefi dan mengutarakan semuanya. Aku sayang padanya.
“Di… sebenarnya Nefi sempat sedih saat tahu bahwa kau tak lagi bersekolah di sini dan harus pergi ke Palembang. Dia pun sangat sedih karena kau sama sekali tak berkata apa-apa sebelum pergi, tidak berpamitan padanya. Dia pun sempat berkata bahwa dia sebenarnya sangat menyayangimu. “
Aku kaget mendengar Nuri berkata seperti itu. Kaget sekaligus senang tapi aku tak tahu harus berbuat apa.
Yang aku rasa saat ini adalah menyesali semuanya. Menyesal kenapa dulu aku tak sempat mengutarakan perasaanku. Tapi kini aku tahu bahwa dia juga menyayangiku.


